Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Example 728x250
HeadlineManado

Om Damkar, di Balik Sirene dan Kobaran Api: Taklukkan Rasa Takut Demi Menyelamatkan Nyawa

×

Om Damkar, di Balik Sirene dan Kobaran Api: Taklukkan Rasa Takut Demi Menyelamatkan Nyawa

Sebarkan artikel ini

SulutOne.co.id, – Musim kemarau yang berkepanjangan membuat udara di Kota Manado terasa semakin panas. Kondisi lingkungan yang kering juga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran, sementara debit air di sejumlah wilayah terus menurun. Rabu (23/09/2026).

Di tengah situasi tersebut, laporan kebakaran di Kota Manado masih terus berdatangan. Bahkan, berdasarkan data Call Center 112 Manado, jumlah laporan kebakaran menunjukkan peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Manado, Noviyanti Mongkau, S.E., mengatakan peningkatan laporan tersebut terlihat sejak Juni 2026.

“Laporan kebakaran yang diterima oleh Call Center 112 Manado menunjukkan peningkatan setiap bulannya. Sampai dengan hari ini, 18 September 2026, terdapat 311 laporan kebakaran,” ungkap Noviyanti.

Angka 311 bukan sekadar deretan statistik. Di balik angka tersebut terdapat berbagai peristiwa yang mengancam keselamatan warga, rumah, lahan, hingga lingkungan sekitar.

Jenis kejadian yang ditangani pun beragam, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, kebakaran permukiman, hingga pembakaran sampah yang kemudian meluas akibat kondisi lingkungan yang kering.

Dalam situasi seperti itu, ketika asap mulai mengepul dan kobaran api dapat berubah arah sewaktu-waktu, para petugas pemadam kebakaran harus bergerak cepat.

Tak banyak waktu untuk berpikir panjang.

Satu pertanyaan yang selalu terlintas di benak mereka: apakah masih ada orang yang terjebak dan membutuhkan pertolongan?

Di balik tugas penuh risiko tersebut, ada sosok yang belakangan cukup dikenal masyarakat melalui media sosial. Namanya Hilario Mario Anlo.

Namun, masyarakat lebih mengenalnya dengan sapaan sederhana: “Om Damkar.”

Dari Tenaga Honorer hingga Menjadi ASN

Tidak ada jabatan istimewa di balik nama “Om Damkar”. Hilario Mario Anlo merupakan staf pada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Manado yang memilih mengabdikan dirinya untuk pelayanan masyarakat.

Perjalanan pengabdiannya dimulai pada Maret 2021 ketika ia bergabung sebagai tenaga honorer.

Empat tahun kemudian, pada 2025, ia resmi diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Bagi Mario, menjadi petugas pemadam kebakaran bukan sekadar pekerjaan. Ada kepuasan tersendiri ketika pekerjaan yang dijalankan dapat memberikan manfaat langsung, bahkan menyelamatkan nyawa manusia.

“Saya bangga menjalani pekerjaan sebagai ASN, apalagi terkait dengan menyelamatkan nyawa orang,” katanya saat ditemui di Pos Pemadam Kebakaran Kecamatan Mapanget.

Nama “Om Damkar” sendiri lahir dari sesuatu yang sederhana.

Sebelumnya, ia menggunakan nama pribadinya, “Mario Anlo”, di media sosial. Namun, sang istri kerap memberikan semangat dengan kalimat, “Semangat Om Damkar.”

Kalimat sederhana itu kemudian menjadi inspirasi.

Sejak 2025, Mario mengganti nama akun media sosialnya menjadi “Om Damkar”.

Dari situlah nama tersebut perlahan dikenal lebih luas dan menjadi identitas yang melekat dengan dirinya sebagai petugas pemadam kebakaran.

Ia rutin membagikan foto maupun video aktivitas petugas ketika menangani berbagai kejadian kebakaran.

Media sosial kemudian menjadi ruang komunikasi baru antara dirinya dan masyarakat.

Namun, kedekatan tersebut juga menghadirkan tantangan.

Ketika Media Sosial Bukan Jalur Laporan Darurat

Di era digital, sebuah peristiwa kebakaran dapat diketahui masyarakat hanya dalam hitungan menit.

Sebuah foto diunggah. Video beredar. Warga membagikan informasi. Bahkan, tidak jarang akun media sosial “Om Damkar” ditandai ketika masyarakat melihat kebakaran.

Harapannya sederhana: petugas segera datang.

Namun, Mario mengingatkan bahwa unggahan di media sosial bukanlah laporan resmi yang secara otomatis masuk ke sistem penanganan keadaan darurat.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan media sosial sebagai jalur pertama ketika menemukan kebakaran.

“Jangan dulu diunggah di media sosial, langsung hubungi kami di Layanan Call Center 112, bebas pulsa,” katanya.

Layanan Call Center 112 beroperasi selama 24 jam. Laporan yang diterima operator kemudian diteruskan kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Manado atau perangkat daerah terkait sesuai jenis keadaan darurat yang dilaporkan.

Bagi petugas, informasi yang paling dibutuhkan bukan sekadar informasi yang cepat menyebar, melainkan informasi yang cepat, tepat dan dapat ditindaklanjuti.

Sebab dalam keadaan darurat, keterlambatan beberapa menit dapat memengaruhi kondisi yang akan dihadapi petugas ketika tiba di lokasi.

Sirene Berbunyi, Pikiran Langsung Tertuju pada Korban

Begitu laporan kebakaran masuk, waktu menjadi sangat berharga.

Petugas segera mengambil perlengkapan, menaiki armada dan bergerak menuju lokasi. Titik kejadian biasanya diketahui melalui informasi lokasi yang dibagikan dalam grup koordinasi WhatsApp.

Untuk mempercepat respons, armada juga telah dipersiapkan dengan air sehingga dapat langsung bergerak ketika laporan diterima.

“Yang ada di pikiran kami, ada orang yang terjebak dan perlu diselamatkan. Kami harus cepat-cepat ke lokasi,” ujar Mario.

Perjalanan menuju lokasi pun bukan tanpa risiko.

Kemacetan menjadi salah satu hambatan yang sering dihadapi. Akses menuju lokasi kebakaran terkadang juga sempit, sementara keberadaan kabel listrik menjadi tantangan tersendiri.

Bagi masyarakat, suara sirene mungkin sekadar menjadi tanda bahwa mobil pemadam sedang melintas.

Namun bagi petugas, perjalanan menuju lokasi sudah merupakan bagian dari risiko pekerjaan.

“Pekerjaan kami sudah mempertaruhkan nyawa. Di perjalanan menuju lokasi kebakaran saja sudah mempertaruhkan nyawa, apalagi di lokasi,” katanya.

Kondisi di lapangan juga tidak selalu sesuai dengan laporan awal.

Kebakaran yang disebut masih kecil dapat berkembang menjadi lebih besar ketika petugas tiba. Mario pernah menerima laporan kebakaran alang-alang yang awalnya masih berskala kecil.

Namun ketika petugas tiba, api telah menjalar dan mendekati rumah warga.

Dalam kondisi seperti itu, keberanian saja tidak cukup.

Petugas harus memiliki kemampuan, keterampilan, disiplin dan kesiapan menghadapi berbagai situasi di lapangan.

“Kami tidak jago menghadapi kebakaran, tetapi kami terlatih untuk menghadapi kebakaran,” ungkapnya.

Takut Itu Ada, Tetapi Harus Dikalahkan

Di mata masyarakat, petugas pemadam kebakaran identik dengan keberanian.

Seragam, helm, selang dan armada merah menjadi simbol mereka yang berdiri di garis depan ketika api berkobar.

Namun di balik perlengkapan tersebut tetap ada manusia yang memiliki rasa takut.

Mario mengakui, rasa takut tetap ada setiap kali dirinya menghadapi situasi berbahaya.

Tetapi rasa takut itu harus dikalahkan oleh sesuatu yang lebih besar: keinginan untuk menyelamatkan orang lain.

“Rasa takut saya dikalahkan oleh keinginan saya untuk menyelamatkan nyawa,” katanya.

Pengalaman yang paling membekas baginya terjadi saat kebakaran di Mega Mal Manado pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang karyawan meninggal dunia.

Mario mengungkapkan bahwa saat kejadian, masih terdapat korban di dalam bangunan. Keinginan untuk masuk dan memberikan pertolongan begitu besar.

Namun kondisi di lapangan membuat akses menuju korban tertutup kobaran api.

Bagi seorang petugas yang terbiasa bergerak menuju sumber bahaya, tidak mampu mencapai korban menjadi salah satu pengalaman paling berat.

Peristiwa tersebut terus membekas bukan hanya karena besarnya api, tetapi karena ada seseorang yang ingin diselamatkan, sementara pada saat itu pertolongan tidak dapat dilakukan sebagaimana yang diharapkan.

Apresiasi, Kritik, dan Cacian

Setiap kebakaran yang berhasil dipadamkan menjadi bagian dari perjalanan pengabdian para petugas.

Begitu pula dengan setiap nyawa yang berhasil diselamatkan.

Di tengah pekerjaan yang penuh risiko, apresiasi masyarakat menjadi salah satu sumber semangat.

“Ketika ada yang berterima kasih kepada kami, kami bersyukur. Artinya, masih ada orang yang peduli dengan pemadam,” ujarnya.

Namun tidak semua respons yang diterima berupa apresiasi.

Kritik hingga cacian terkadang datang ketika masyarakat menilai penanganan di lapangan tidak berjalan sesuai harapan.

Bagi Mario, hal tersebut merupakan bagian dari risiko pekerjaan yang harus diterima.

“Sudah biasa. Itu memang risiko pekerjaan kami,” katanya.

Meski demikian, berbagai respons tersebut tidak menyurutkan komitmennya untuk menjalankan tugas secara profesional.

Sebab ketika kobaran api membesar dan keadaan berubah menjadi darurat, keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.

Waspada, Cegah Kebakaran Bersama

Memasuki periode dengan kondisi cuaca panas dan lingkungan yang kering, kewaspadaan masyarakat menjadi semakin penting.

Pencegahan kebakaran bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam kebakaran. Masyarakat juga memiliki peran besar untuk mencegah api muncul dan berkembang menjadi bencana.

Mario mengimbau masyarakat tidak membakar sampah secara sembarangan. Instalasi listrik juga perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan kondisinya aman.

Kompor dan berbagai peralatan yang dapat memicu api juga harus dipastikan telah dimatikan setelah digunakan.

Langkah-langkah sederhana tersebut dapat menjadi bagian penting dari upaya mencegah kebakaran.

Dan ketika kebakaran benar-benar terjadi, jangan menunggu video menjadi viral.

Segera hubungi Call Center 112 Manado.

Sebab bagi petugas seperti “Om Damkar”, yang paling berarti bukan seberapa cepat sebuah kebakaran menjadi perhatian di media sosial, melainkan seberapa cepat informasi yang benar diterima sehingga pertolongan dapat segera diberikan.

Di balik setiap sirene yang meraung dan armada merah yang melaju, selalu ada manusia yang sedang berpacu dengan waktu.

Dan di tengah kobaran api, mereka datang dengan satu tujuan: menyelamatkan nyawa.

(Fad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!