Example 728x250
HeadlineManadoPemerintahan PolitikSulut

“Maafkan Saya Meneteskan Air Mata”, Gubernur Yulius Kenang Darwin Muksin dan Dua Buah Kelapa Muda

×

“Maafkan Saya Meneteskan Air Mata”, Gubernur Yulius Kenang Darwin Muksin dan Dua Buah Kelapa Muda

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

SulutOne.co.id,- Suasana haru mewarnai pelepasan jenazah Almarhum Darwin Muksin, S.Sos., M.M., di Teling Atas, Manado, Minggu (9/8/2026) pagi.

Di hadapan keluarga, sahabat, dan rekan-rekan kerja, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling tak kuasa menahan air mata saat mengenang sosok Darwin Muksin yang disebutnya sebagai sahabat, pejabat berdedikasi, sekaligus abdi negara yang meninggalkan kesan mendalam.

“Maafkan saya meneteskan air mata. Maafkan kalau saya cengeng.” ujar Yulius dengan penuh haru.

Gubernur Yulius mengaku, sebagai seorang prajurit, dirinya terbiasa menghadapi berbagai keadaan dengan ketegaran. Namun, kehilangan seorang sahabat tetap menjadi sesuatu yang sulit disembunyikan.

Menurutnya, Darwin Muksin merupakan sosok pejabat yang selalu menunjukkan dedikasi tinggi terhadap tugas.

“Kalau saya memberikan tugas A, B, dan C, beliau tidak sekadar menyelesaikannya sampai C. Beliau bisa menuntaskannya sampai X, Y, bahkan Z,” kenang Yulius.

Darwin, kata dia, bukan tipe orang yang banyak mengeluhkan kesulitan pekerjaan. Setiap tanggung jawab yang diberikan selalu diupayakan selesai dengan sebaik-baiknya.

Di balik karakter serius dalam bekerja, Darwin juga dikenal sebagai sosok humoris dan jenaka. Candaan-candaannya kerap mencairkan suasana di tengah padatnya pekerjaan.

Namun, ada satu kenangan sederhana yang kini terasa begitu berharga bagi Gubernur Yulius.

Sehari sebelum kepergiannya, Darwin menyelesaikan tugas terkait penanaman pohon kelapa. Setelah itu, ia datang membawa dua buah kelapa muda. Satu diberikan kepada Gubernur Yulius dan satu lagi untuk istrinya, Ibu Anik Wandriani.

Dengan gaya khasnya, Darwin kemudian bercanda:

“Mohon maaf, Pak Gubernur, saya berikan kelapa pakai tangan kiri. Walaupun tangan kiri, tapi rasanya sangat manis…”

Candaan tersebut sempat membuat mereka tertawa.

Kini, dua buah kelapa muda itu justru menjadi salah satu kenangan terakhir yang sangat membekas.

“Kelapanya mungkin sudah habis. Tetapi kebaikannya tertinggal. Candanya tertinggal. Senyumnya tertinggal. Dan pengabdiannya akan jauh lebih lama tinggal dalam ingatan kami.”

Bagi Yulius, kepergian Darwin menjadi pengingat bahwa manusia sering kali baru menyadari betapa berharganya sebuah pertemuan setelah seseorang pergi.

“Kemarin beliau masih bekerja. Kemarin beliau masih menyelesaikan tugas. Kemarin beliau masih membuat kami tertawa. Hari ini, kami berdiri melepas kepergiannya.”

Atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Gubernur Yulius menyampaikan penghargaan serta terima kasih atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian Darwin Muksin kepada pemerintah dan masyarakat.

Kepada keluarga besar Muksin–Pangemanan, khususnya istri dan anak-anak yang ditinggalkan, Yulius menyampaikan dukacita mendalam.

“Keluarga tidak sendiri dalam kedukaan ini. Kami ikut kehilangan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara ikut kehilangan. Dan saya pribadi ikut kehilangan.”

Ia juga mendoakan agar seluruh amal ibadah dan pengabdian Almarhum diterima Allah SWT, segala khilaf dan kesalahannya diampuni, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Di akhir ungkapannya, Gubernur Yulius kembali menyampaikan pesan untuk sahabatnya.

“Pak Darwin, terima kasih untuk pengabdianmu. Terima kasih karena selalu menuntaskan tugas. Terima kasih untuk senyum dan candamu. Dan terima kasih untuk dua buah kelapa muda itu.”

“Ternyata yang manis itu bukan hanya kelapanya. Yang manis adalah kenangan tentang ketulusan seorang Darwin Muksin dalam mengabdi, bekerja, bersahabat dan membuat orang-orang di sekelilingnya tersenyum.”

Selamat jalan, Bapak Darwin Muksin, S.Sos., M.M. Tugasmu telah selesai. Jasa dan pengabdianmu akan selalu dikenang.

(Fad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!