Sulutone.co id – Ruangan itu dipenuhi para kader Partai Golkar dari berbagai daerah di Sulawesi Utara. Namun di balik suasana formal Musyawarah Daerah (Musda) XI, ada pesan yang terasa lebih dalam dari sekadar agenda politik.
Ketua Umum Bahlil Lahadalia berdiri di hadapan mereka, bukan hanya sebagai pimpinan, tetapi seperti seorang yang sedang mengingatkan keluarganya sendiri.
Dengan nada tegas namun penuh makna, ia mengajak semua yang hadir untuk berhenti sejenak dari perbedaan, dan mulai melihat satu hal yang lebih penting: kebersamaan.
“Kalau masih ada yang belum selesai, mari kita selesaikan. Kita butuh suasana yang tenang, supaya bisa melangkah bersama,” ucapnya di Manado, Sabtu (11/4/2026).
Di momen itu, Bahlil seperti ingin menghapus sekat-sekat yang mungkin terbentuk selama ini. Ia tahu, di dalam sebuah organisasi besar, perbedaan adalah hal yang tak terhindarkan. Namun baginya, perbedaan tidak boleh berubah menjadi jarak.
Ia berbicara tentang komunikasi antar kader tentang bagaimana selama ini banyak hal bisa dipahami tanpa perlu banyak kata. Tapi ia juga mengingatkan, pemahaman saja tidak cukup jika tidak diwujudkan dalam tindakan yang sama.
Perlahan, arah pembicaraannya mengalir ke harapan ke depan. Bukan sekadar angka kursi legislatif, tetapi tentang bagaimana Golkar bisa tetap menjadi rumah yang kuat bagi semua kadernya.
Nama Christiany Eugenia Paruntu pun disebut, sebagai sosok yang dinilai telah membawa perubahan positif. Namun bagi Bahlil, keberhasilan itu bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih besar.
Lalu, ia sampai pada pesan yang paling ditekankan yang disampaikan dengan nada lebih dalam
“Jangan lagi ada kubu-kubuan.”
Kalimat itu singkat, tetapi menggambarkan harapan besar. Ia ingin siapa pun yang terpilih nanti tidak berjalan sendiri, melainkan merangkul semua termasuk mereka yang mungkin pernah berbeda pilihan.
Baginya, kompetisi dalam Musda hanyalah bagian dari proses. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya: apakah tetap terpecah, atau kembali bersatu.
Di akhir arahannya, Bahlil mengajak semua yang hadir untuk melihat posisi kawasan timur Indonesia yang menurutnya memiliki tantangan tersendiri.
Kesadaran itu, kata dia, seharusnya menjadi alasan untuk semakin saling menguatkan.
“Kalau kita tahu kita tidak banyak, jangan saling melemahkan. Justru harus lebih kompak,” ujarnya.
Musda hari itu pun terasa lebih dari sekadar forum organisasi. Ia menjadi ruang refleksi tentang arti kebersamaan, tentang merangkul perbedaan, dan tentang harapan agar langkah ke depan bisa ditempuh bersama.
Di tengah dinamika politik, pesan itu terdengar sederhana. Tapi justru di situlah letak kekuatannya.
(FM)







