Sulutone.co.id,-MANADO — Aksi perkelahian antarpelajar kembali terjadi di wilayah Tikala, Manado, Rabu (16/9/2026). Sejumlah siswa dari beberapa sekolah menengah kejuruan (SMK) disebut terlibat dalam aksi saling kejar dan perkelahian di sekitar depan Lapangan Tikala.
Sekolah yang disebut terlibat dalam aksi tersebut yakni SMK Negeri 6 Manado, SMK Negeri 2 Manado, dan SMK Negeri 1 Manado. SMK 3 Manado
Situasi sempat memanas ketika kelompok pelajar terlibat aksi kejar-kejaran hingga masuk ke badan jalan. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius karena sejumlah siswa terlihat mengendarai sepeda motor secara berboncengan sambil berteriak dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Aksi kejar-kejaran di jalan raya menjadi bagian yang paling mengkhawatirkan. Pasalnya, konsentrasi pelajar yang terbawa emosi ditambah kendaraan yang melaju cepat berpotensi menimbulkan kecelakaan, baik bagi para pelajar maupun pengguna jalan lain yang tidak mengetahui adanya aksi tersebut.
Perkelahian yang melibatkan pelajar bukan lagi sekadar persoalan antarindividu. Ketika aksi tersebut berlanjut ke jalan umum, keselamatan masyarakat ikut dipertaruhkan. Warga pun mulai merasa ruang publik dan jalan raya di Manado semakin tidak aman akibat aksi kekerasan yang berulang.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, aksi tersebut sempat diamankan oleh personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Manado. Aparat kewilayahan setempat juga turun ke lokasi setelah sebelumnya menerima informasi mengenai adanya aksi perkelahian yang dalam beberapa hari terakhir disebut kembali terjadi di antara kelompok pelajar.
Pala wilayah setempat turut mendatangi lokasi dan memberikan teguran kepada para pelajar. Kehadiran aparat kewilayahan tersebut menjadi bentuk respons atas keresahan yang mulai muncul di tengah masyarakat akibat aksi perkelahian pelajar yang berulang.
Setelah situasi diamankan, sejumlah pelajar kemudian dibawa oleh petugas Polsek Tikala untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui rangkaian kejadian serta pihak-pihak yang terlibat dalam aksi perkelahian tersebut.
Warga Mulai Resah
Aksi tawuran yang berulang membuat masyarakat sekitar mempertanyakan pengawasan terhadap aktivitas para pelajar di luar lingkungan sekolah. Bagi warga, Manado kini terasa semakin rawan perkelahian karena bentrokan pelajar dapat pecah sewaktu-waktu dan merembet ke jalan umum.
Sejumlah warga mengaku khawatir melintas di kawasan yang kerap menjadi titik berkumpul pelajar, terutama pada jam pulang sekolah. Mereka takut terjebak dalam aksi kejar-kejaran, terkena lemparan, atau menjadi korban kecelakaan akibat pengendara motor yang melaju ugal-ugalan.
Warga berharap persoalan ini tidak hanya ditangani setelah perkelahian pecah. Pencegahan dinilai perlu dilakukan sejak muncul tanda-tanda berkumpulnya kelompok pelajar yang berpotensi melakukan aksi kekerasan.
Keresahan masyarakat juga berkaitan dengan perilaku sebagian pelajar yang membawa kendaraan bermotor dan melakukan aksi kebut-kebutan saat mengejar kelompok lain. Jika tidak segera dihentikan, kondisi seperti itu dikhawatirkan dapat berujung pada kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar maupun masyarakat umum.
Masyarakat meminta aparat bersama pihak sekolah dan orang tua tidak menunggu sampai jatuh korban untuk mengambil langkah lebih tegas dalam mencegah aksi serupa. Warga menilai patroli dan pengawasan harus diperkuat di lokasi-lokasi yang selama ini rawan dijadikan tempat berkumpul atau bentrokan.
Sebab, persoalan tawuran pelajar tidak berhenti pada siapa yang menang atau kalah dalam perkelahian. Ada risiko yang jauh lebih besar ketika aksi tersebut berpindah ke jalan raya: kecelakaan, korban luka, kerusakan fasilitas, hingga kemungkinan jatuhnya korban jiwa.
Jangan Tunggu Sampai Ada Korban
Berulangnya informasi mengenai perkelahian antarpelajar di wilayah tersebut menjadi sinyal bahwa penanganan persoalan ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Situasi ini juga menunjukkan bahwa Manado tidak boleh membiarkan aksi kekerasan pelajar dianggap sebagai kenakalan remaja biasa.
Sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan peserta didiknya tidak terlibat dalam kekerasan. Orang tua juga diharapkan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, terutama setelah jam sekolah. Di sisi lain, aparat keamanan dan pemerintah wilayah perlu memperkuat langkah pencegahan di lokasi-lokasi yang rawan dijadikan tempat berkumpulnya kelompok pelajar.
Masyarakat pada akhirnya hanya menginginkan satu hal: jalan raya dan ruang publik kembali menjadi tempat yang aman bagi semua. Warga tidak ingin rasa takut menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari hanya karena khawatir sewaktu-waktu terjadi tawuran di sekitar mereka.
Aksi saling kejar dengan sepeda motor, teriakan kelompok pelajar, serta perkelahian di ruang publik bukan pemandangan yang semestinya dianggap sebagai kenakalan remaja biasa. Ketika keselamatan pengguna jalan lain mulai terancam, persoalannya sudah menyentuh kepentingan publik.
Peristiwa di kawasan Lapangan Tikala ini diharapkan menjadi momentum bagi sekolah, orang tua, pemerintah dan aparat keamanan untuk duduk bersama mencari akar persoalan dan mencegah agar konflik antarpelajar tidak kembali berulang.
Jangan sampai tindakan baru dilakukan setelah ada pelajar yang terjatuh dari motor, tertabrak kendaraan, atau masyarakat menjadi korban. Mencegah jatuhnya korban harus menjadi prioritas sebelum tawuran berikutnya kembali pecah.
Andri












